AKTIVASI POSYANDU TINGKATKAN KESEHATAN BALITA

Oleh: Abdullah
Centre of Excellen Tani Berdaya Rumah Zakat
 
Sudah tiga bulan lebih sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo (2/3/2020) virus corona yang berasal dari Famili Coronavide menjadi akrab di telinga masyarakat Indonesia, hampir setiap hari kita disajikan dengan berita-berita terkait pandemi ini. Kehidupan masyarakat kita dibuat berubah, ruang gerak dalam beraktivitas di luar menjadi terbatas, namun dengan cara tersebut kita saling menguatkan, perlahan diharapkan akan memutus rantai penyebarannya. Pemberitaan akan virus corona ini juga diselingi oleh pemberitaan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan, bahkan Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, setidaknya ada 3,05 juta orang pekerja di Indonesia yang terdampak virus corona atau covid-19 ini (PHK dan dirumahkan). Melihat kondisi yang terjadi saat ini, menuntut rasa kemanusian kita semua, untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong yang begitu melekat pada masyarakat kita, dimana budaya ini sudah menjadi jati diri bangsa Indonesia sejak lama.
 
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan bukan saja dialami oleh mereka yang tinggal di perkotaan, tapi juga oleh mereka yang tinggal di pedesaan. Lantas bagaimana masyarakat desa menghadapi tersebut? Apa yang digaungkan oleh pemerintah terkait program padat karya, seharusnya juga dapat diimplementasikan oleh siapa saja, termasuk dalam sektor pertanian rakyat. Mengutip definisi Padat karya dari Wikipedia yaitu kegiatan pembangunan proyek yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia, dibandingkan dengan tenaga mesin. Rasanya hal ini masih sangat relevan diterapkan di sektor pertanian kita, mengingat penggunaan teknologi diluar irigasi masih sangat minim. Untuk itu ditengah keterbatasan tersebut penggunaan tenaga manusia dapat membantu aktivitas bertani kita dalam skala besar.
 
Mereka yang memiliki lahan dalam jumlah yang luas tentu dapat melakukan hal tersebut dalam mengelolah tanahnya, dengan melibatkan banyak buruh tani, terlebih sektor pangan menjadi primadona di tengah wabah covid-19 ini. Adapun untuk mengefisiensikan biaya operasinal, pemilik lahan dapat melakukan sistem pertanian terpadu, dimana menggunakan ternak sebagai mitra, kotoran yang dihasilkan oleh ternak yang dimiliki oleh petani atau buruh tani lainnya dapat digunakan sebagai pupuk. Inilah yang biasa kita sebut dengan integrasi ternak dan tanaman atau pertanian terpadu. Pemilik lahan pun akan terbantu dengan adanya bantuan pupuk kandang. Bagaimana aktivitas ini dapat diterapkan?
 
1. Mengedepankan semangat kekeluargaan, pengorbanan dan gotong royong
 
Artinya sang pemilik lahan dalam menggarap lahannya lebih memperhatikan penggunaan tenaga manusia, dengan niat menolong sesamanya, hal ini dapat disebut sebagai penerapan padat karya dalam lingkup masyarakat desa. Harapannya dapat mengurangi angka pengangguran yang ada di wilayah pedesaan. Jika hal ini dapat berjalan dengan baik, secara otomatis tingkat urbanisasi akan semakin rendah. Berbicara tentang semangat kekeluargaan, pengorbanan dan gotong royong yang ada di desa rasanya hal tersebut merupakan hal yang biasa bagi masyarakat pedesaan, dari desa kita mengenal istilah beras jimpitan, dimana mereka yang memiliki kelebihan beras memberikan beras kepada yang lain dengan cara menyimpan di jimpitan untuk diambil petugas.
 
2. Pertanian Terpadu
 
Setelah semangat gotong royong menjadi ruh dalam penerapan padat karya di pedesaan yang akan menjadi pertanyaan, bagaimana pemilik lahan atau modal yang ada di desa mendapatkan keuntungan? Pertanian Terpadu ini lah yang akan menjadi jawaban akan pertanyaan tersebut. Pada hakekatnya, pertanian terpadu adalah upaya memanfaatkan seluruh potensi energi agar dapat dipanen secara seimbang, baik itu dalam sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan.
 
Terkait hal ini, dapat kita ambil satu contoh pemilik lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman jagung, maka dengan pertanian terpadu dalam hal ini spesifik kepada integrasi ternak dan tanaman dapat diaplikasikan didalamnya. Misalnya saja, limbah peternakan seperti sisa kotoran ternak yang dimiliki oleh buruh tani yang bekerja pada pemilik lahan dapat dijadikan pupuk organik untuk tanaman jagungnya. Begitu juga sebaliknya limbah pertanian dari tanaman jagung nantinya akan dimanfaatkan menjadi pakan ternak. Dengan pola seperti ini, maka biaya produksi dari si pemilik lahan akan semakin rendah, karena ada pos pupuk yang dihemat dan harapannya keuantungan akan semakin besar.
 
Semoga melalui pendekatan pertanian terpadu yang padat karya di desa dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat desa yang terdampak covid-19 dalam menghadapi new normal.

Hubungi Kami

Jl. Turangga No.33 Bandung
Call Center: 0804 100 1000
WA/SMS Center: 0815 7300 1555

Sumber: https://www.desaberdaya.id

 

Mitra Kami

Copyright © 2019 Desa Berdaya