AKTIVASI POSYANDU TINGKATKAN KESEHATAN BALITA

Oleh: Rudeq Mochammad Yanuar Santoso, SE
Anggota Tim Centre of Excellent Tani Berdaya Rumah Zakat

Indonesia adalah negara agraris yang menyimpan berjuta potensi alam. Potensi yang terdiri dari kekayaan biota laut, mineral tambang, keanekaragaman flora fauna ditambah tanah subur menjadikan kekayaan negeri ini makin menakjubkan sehingga hampir seluruh jenis tanaman bisa tumbuh dan hidup dimana salah satunya adalah pada komoditi pertanian bahan pangan.

Selayaknya di berbagai belahan dunia lain dimana komoditi pertanian mayoritas digarap di wilayah desa, Indonesia dengan jumlah desa yang berjumlah 83.931 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) www.bps.go.id di tahun 2018 telah menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian masyarakat yang tinggal di desa. Hal ini dikarenakan penduduk di wilayah desa rata – rata masih memiliki lahan yang cukup luas untuk ditanami berbagai jenis tanaman seperti padi dan jagung dalam skala besar.

Berbicara tentang komoditi pertanian di negara Indonesia tentu kita tahu bahwa produk pangan unggulan pertama di negeri ini adalah padi. Hal ini tentu saja dikarenakan padi yang pada akhirnya diubah menjadi beras merupakan kebutuhan pangan utama yang konon tak bisa tergantikan. Bahkan bagi mayoritas orang jawa kerap menyebut bahwa makan siang atau makan malam tidak dianggap makan apabila tidak menggunakan nasi. Namun selain produk beras terdapat pula tanaman berkabohidrat lain yang tentu banyak masyarakat Indonesia telah mengetahui dimana berdasarkan data dari Kementerian Pertanian tahun 2018 produk pertanian pangan ini menempati urutan kedua yakni jagung.

Sejarah jagung yang menurut para ahli berasal dari bagian selatan Meksiko di Amerika Tengah, telah dibawa oleh para penjelajah Eropa hingga ke bumi nusantara. Seiring berjalannya waktu varietas jagung mengalami perkembangan sampai pada jenisnya yang sekarang. Pada jaman dahulu jagung merupakan salah satu bahan pokok yang lebih banyak digunakan ketimbang beras oleh penduduk nusantara di era sebelum kemerdekaan di samping tanaman karbohidrat lain seperti sagu, ubi jalar,dan ketela. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat di negeri ini mulai lebih terbiasa dengan beras. Padahal dari segi gizi banyak pakar yang mengatakan bahwa jagung memiliki kandungan yang tak kalah dengan beras atau bahkan lebih baik.

Apabila dibandingkan dengan beras atau nasi, jagung memiliki kandungan protein,serat, mineral, antioksidan, dan amilosa yang lebih banyak dibandingkan dengan nasi. Selain itu kandungan amilosa pada jagung yang lebih banyak daripada nasi membuat jagung lebih aman dikonsumsi oleh penderita diabetes . Beberapa pabrik bahkan ada yang memproduksi gula dari bahan baku jagung sebagai gula diet. Fakta bahwa banyak bahan pangan non beras yang memiliki gizi lebih baik bahkan mendorong beberapa pemerintah daerah mencanangkan gerakan diversifikasi makanan pokok seperti di Kota Depok yang membuat program One Day No Rice (ODNR) di tahun 2012 agar masyarakat tidak terlalu mengalami ketergantungan terhadap beras. Pengurangan ketergantungan ini dilakukan salah satunya sebagai upaya untuk menciptakan ketahanan pangan minimal dalam skala rumah tangga.

Gagasan ketahanan pangan telah cukup lama digaungkan. Proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, juga kerap menyampaikan kepada rakyat agar senantiasa menjaga kesediaan pangan rakyat adalah seperti yang pernah disampaikan saat peletakan batu pertama pendirian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1952 dimana dalam kesempatan itu Bung Karno menyebut bahwa soal persediaan makanan rakyat adalah soal hidup atau mati. Hal ini sangat beralasan mengingat sejak dahulu nusantara adalah merupakan negara agraris. Potensi tanah yang subur merupakan anugerah bagi bertumbuhnya berjuta jenis tanaman pangan. Peluang tumbuhnya berjenis tanaman pangan ini juga semakin meningkatkan probabilitas terwujudnya ketahanan pangan yang paripurna melalui metode diversifikasi tanaman pangan seperti jagung, umbi-umbian, dan sagu.

Masih terkait dengan isu menciptakan ketahanan di bidang penyediaan bahan pangan, ternyata pemerintah dan beberapa tokoh nasional mulai menggaungkan lagi semangat perwujudan ketahanan pangan semenjak pandemi Covid-19 melanda banyak negara termasuk Indonesia. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasif terhadap prediksi kelangkaan beras dan beberapa komoditi lain akibat pembatasan aktivitas ekspor impor.

Beberapa kalangan menilai seruan kepada masyarakat dalam mewujudkan kedaulatan pangan dirasa tepat dalam kondisi seperti ini namun tidak sedikit juga yang menyangsikan apakah himbauan tersebut akan berjalan efektif tanpa adanya tindakan nyata seperti pembuatan program atau kebijakan. Meski demikian beberapa pengamat menilai bahwa peluang masyarakat Indonesia untuk menciptakan kedaulatan pangan dengan strategi diversifikasi tanaman pangan sejatinya cukup besar.

HARI AGRARIA NASIONAL 2020, RUMAH ZAKAT AJAK KONSUMSI JAGUNG (1)
Sebagai contoh pada kasus tanaman jagung yang selama musim pandemi mengalami penurunan harga lantaran kurang terserap di pasar, maka ketersediaan produk jagung menjadi cukup besar. Ketersediaan yang melimpah ini pada akhirnya mampu diserap oleh masyarakat yang membutuhkan sebagai alternatif bahan pangan. Menariknya komoditi jagung ini pun sebenarnya juga sudah surplus sejak tahun 2018 meskipun bencana virus corona belum melanda negeri ini.

Beragam aksi mewujudkan ketahanan pangan dengan memanfaatkan komoditas jagung sesungguhnya sudah cukup banyak dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh satuan polisi di Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah pada tanggal 17 September 2020 melalui kegiatan panen di kebun jagung milik Polres Barito Timur. Acara yang didatangi oleh wakil Bupati Barito Timur ini ditujukan sebagai bentuk dukungan Polri dalam hal mewujudkan ketahanan pangan nasional.
HARI AGRARIA NASIONAL 2020, RUMAH ZAKAT AJAK KONSUMSI JAGUNG (2)
Ajak Masyarakat Situbondo untuk mengkonsumsi Jagung sebagai Pengganti beras
Masih dalam semangat yang sama yakni mendorong masyarakat menguatkan ketersediaan stok pangan rumah tangga, warga Desa Jatisari Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo Jawa Timur yang merupakan binaan lembaga filantropi Rumah Zakat juga melakukan hal yang serupa. Sebagai desa penghasil jagung berskala besar, banyak masyarakat yang tinggal di daerah ini telah menggunakan jagung sebagai bahan utama konsumsi sejak dahulu.

Meski terkadang dalam beberapa hidangan jagung masih dicampur dengan beras (nasi jagung) namun ketergantungan warga terhadap beras relatif tidak terlalu tinggi seperti di kebanyakan kota besar. Hal ini bisa dilihat pada kebiasaan warga yang masih mengonsumsi jagung untuk kebutuhan makan sehari – hari. Hal unik lainnya sebagian warga di sini juga mengelola produk jagung sebagai makanan sampingan atau kudapan seperti emping jagung, jenang jagung, dan lain sebagainya.

Gerakan perwujudan ketahanan pangan melalui diversifikasi tanaman pangan dalam hal ini jagung memang bukanlah perkara mudah. Perlu dorongan kuat tidak hanya dari pemerintah namun juga oleh semua lapisan masyarakat mulai dari perangkat hingga tokoh lokal baik berupa edukasi yang dilakukan secara simultan maupun dalam bentuk program nyata agar penggunaan jagung sebagai alternatif pangan bisa semakin membudaya di kalangan rakyat. Semoga di momen peringatan Hari Agraria yang jatuh setiap tanggal 24 September, semakin banyak anak bangsa yang memiliki kepedulian terhadap produk pertanian jagung sebagai bagian upaya perwujudan ketahanan pangan sekaligus menguatkan para petani di Indonesia.

 

 

 

 

 

Tulisan ini pernah diterbitkan di https://kumparan.com/rumah-zakat-surabaya/hari-agraria-nasional-2020-rumah-zakat-ajak-konsumsi-jagung-1uFpRPg3Jk3/full

Hubungi Kami

Jl. Turangga No.33 Bandung
Call Center: 0804 100 1000
WA/SMS Center: 0815 7300 1555

Sumber: https://www.desaberdaya.id

 

Mitra Kami

Copyright © 2019 Desa Berdaya