RUMAH ZAKAT DAN PENGEMBANGAN KUBE TOMPU DESBER KLEPU PRINGAPUS

RUMAH ZAKAT DAN PENGEMBANGAN KUBE TOMPU DESBER KLEPU PRINGAPUS

KUBE TOMPU DESBER KLEPU BANGKIT SETELAH PANDEMI

SEMARANG. Masa pandemi Covid 19 tidak menyurutkan semangat para penerima manfaat program ekonomi Rumah Zakat. Tim Kube Telor Asin Rempah Klepu (Tompu) bersilaturahim dengan para pengrajin telor asin desa tetangga, Gogik Ungaran Barat.

Alhamdulillah, keempat tim dapur juga merupakan binaan Relawan Inspirasi di program ekonomi desa. Kelayakan produk telor asin yang terstandar dan komitmen dalam mempertahankan kualitas merupakan kebutuhan kemitraan bagi pengembangan produksi dan pemasaran tim Kube Tompu di masa mendatang.

Setelah melalui diskusi uji proses masak, uji rasa dan uji testimoni konsumen maka diharapkan kemitraan ini memberikan kebaikan bagi kedua belah pihak.

Tim Kube Tompu memang mengalami vakum di masa pandemi, sekarang berusaha bangkit kembali dan melakukan pembenahan manajemen produksi dan pemasaran. Silaturahim bisnis ini adalah langkah awal dalam mengembangkan strategi bertahan dan menyerang sekaligus.

Doa dan kerjasama semua pihak dibutuhkan dalam usaha bergandengan tangan antarelemen masyarakat dalam berbagai bidang guna menghadapi tantangan ekonomi kreatif dan bisnis era new normal.

LAUNCHING UNIT USAHA KE-7 DARI KOPERASI MEKAR BERDAYA SEJAHTERA BINAAN RUMAH ZAKAT

LAUNCHING UNIT USAHA KE-7 DARI KOPERASI MEKAR BERDAYA SEJAHTERA BINAAN RUMAH ZAKAT

LAUNCHING UNIT USAHA KE-7 KOPERASI MEKAR BERDAYA SEJATERA BINAAN RUMAH ZAKAT

PANDEGLANG. Koperasi Mekar Berdaya Sejahtera yang merupakan binaan Rumah Zakat di Desa Mekarjaya Kecamatan Mekarjaya Kabupaten Pandeglang lakukan launching unit usaha yang ke-7. Adapun usaha yang di launching ini bergerak di bidang penyediaan bahan bakar gas elpiji 3kg, mengingat begitu banyaknya permintaan dari masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar ini. Koperasi bekerja sama dengan salah satu agen LPG di Pandeglang untuk menyuplai sekaligus menjamin ketersediaan dalam memenuhi kebutuhan di masyarakat.

 

Unit usaha yang dinamakan “Warung Gas Mekar Berdaya” ini beralamat di Kampung Cipaheut 02/03 Desa Mekarjaya, tepatnya di rumah Ibu Aisyah yang merupakan salah satu anggota koperasi. Konsep ini menggunakan konsep pemberdayaan dengan sistem bagi hasil karena modal keseluruhan untuk membuka unit usaha ini dari koperasi, berharap dengan kerjasama ini anggota bisa ada pendapatan tambahan dan dibarengi sikap amanah Jujur dan Profesional.

 

“Semoga unit usaha yang ketujuh ini ini menambah semangat para anggota koperasi dan kita juga berharap ada tambahan omset selain dari unit-unit usaha koperasi yang ada, berjalan sukses sesuai yang diharapkan dan tentunya para anggota koperasi berharap di akhir tahun angkanya bertambah”, ungkap Pak Jum Jumaedi selaku ketua koperasi.

PETANI BINAAN RUMAH ZAKAT TANAM UBI MADU

PETANI BINAAN RUMAH ZAKAT TANAM UBI MADU

PETANI BINAAN RUMAH ZAKAT TANAM UBI MADU

SALATIGA. Petani binaan Rumah Zakat mengembangkan budidaya ubi madu di Dusun Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga. Senin sore (29/6), petani yang mendapatkan bantuan dana dari Rumah Zakat ini mulai menanam 500an bibit ubi madu di lahan miliknya.

Dwi Pujiyanto, Relawan Rumah Zakat yang turun langsung menyalurkan bantuan dan memberikan pembinaan mengatakan bahwa bantuan ini sebagai usaha untuk memberdayakan petani menghadapi dampak Covid-19. Bantuan yang diberikan berupa biaya untuk pengadaan bibit, pupuk, dan pengolahan lahan siap tanam.

“Bantuan ini sebagai pemberdayaan bagi petani lokal sekaligus untuk menyiapkan ketahanan pangan menghadapai pandemi Covid-19. Ubi madu bisa menjadi salah satu cadangan makanan pilihan sebagai pengganti beras. Selain itu, ubi madu juga bisa diolah menjadi berbagai makanan,” kata Dwi Pujiyanto.

Trimo Wahyudi, salah satu penerima manfaat ini mengaku bersyukur dan berterima kasih kepada Rumah Zakat yang telah memberikan bantuan. Kondisi pandemi dan permulaan musim kemarau seperti sekarang ini, biasanya para petani kehilangan motivasi. Tapi dengan adanya bantuan dari Rumah Zakat ini membuat harapan baru bagi para petani di Salatiga.

“Terima kasih kepada Rumah Zakat yang memberikan bantuan untuk budidaya ubi madu ini. Bantuan ini menjadi harapan baru dan membangun optimisme para petani meskipun menghadapi permulaan musim kemarau. Biasanya musim seperti ini para petani mulai lesu, namun dengan hadirnya Rumah Zakat, kami menjadi semangat,” kata Trimo Wahyudi.

PEMBATASAN KEGIATAN VS PRODUKTIF

PEMBATASAN KEGIATAN VS PRODUKTIF

PEMBATASAN KEGIATAN VS PRODUKTIF

Oleh: Nurmansyah, S. Hum.

Centre of Excellent Manager Rumah Zakat Action

 

Manusia diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain, sehingga interaksi memang sudah menjadi kebutuhan dari manusia itu sendiri. Namun kini lahir sebuah kebijakan tentang pembatasan sosial yang dikarenakan oleh pandemi ini.

Tentu ini merupakan tujuan pencegahan merebaknya virus corona. Lalu bagaimana dengan fitrahnya manusia sebagai makhluk sosial? Banyak dari kita yang belum menyadari betapa skenario Sang Pencipta begitu indahnya. Mari coba kita menilik sedikit ke belakang, apa jadinya jika mengalami pandemi ini dimana pada saat tersebut belum ada alat komunikasi secanggih seperti saat ini? Mau menanyakan kabar orang tua harus memakai kurir surat yang sampai ditujuan sepekan kemudian, ingin mencari update berita berapa orang yang terindikasi virus ini dan lain sebagainya.

Hari ini kita kirim, diterima di tempat tujuan satu pekan kemudian, dan di kirim kembali sehingga kita menerima surat balasan dua minggu setelah kita bersurat. Apa yang terjadi? Tentu akan terjadi kesalahan data dan jauh dari keakuratan. Kini kita mau bertegur sapa cukup dengan alat komunikasi bahkan sudah banyak yang bisa menampilkan video, sehingga bisa melihat langsung lawan bicara.

Dibatasi kegiatan untuk berkumpul bisa diatasi dengan berbagai kemajuan teknologi canggih saat ini, bahkan peserta rapat pun bisa hingga ratusan orang dari berbagai lokasi. Hebatnya lagi tidak ada batas negara untuk bisa mengikuti pertemuan tersebut. Jika sebelumnya untuk mengadakan pertemuan atau pelatihan membutuhkan biaya yang cukup besar karena biaya transportasi yang menunjang untuk berada di lokasi acara yang ditentukan. Belum lagi waktu yang kita habiskan untuk perjalanan pulang pergi dan lain sebagainya.

Contoh lainnya seorang bapak harus berangkat setiap harinya pukul 06.00 pagi mulai dari hari Senin hingga Jumat, sehingga waktu untuk bercengkrama dengan keluarga tersisa di pukul 18.00 hingga pukul 22.00 plus hari Sabtu dan Ahad. Sekarang setiap hari keluarga berkumpul utuh walaupun berbagai tantangan baru dihadapi karena work from home. Semakin terasa arti kehadiran sebuah keluarga.

Lalu bagaimana dengan yang sudah puluhan tahun bekerja di suatu pabrik dan akibat pandemi ini tidak ada yang bisa dikerjakan dari rumah? Kini banyak bermunculan best practice yang sebenarnya sudah dilakukan oleh kakek nenek kita dahulunya, antara lain sistem tumpang sari. Dimana saat petani menanam padi dengan menggabungkan budidaya ikan, sehingga hasil produktifitas panen akan meningkat. Kini disederhanakan dengan budidaya lele di dalam ember sekaligus bertanam kangkung.

Hal ini mengingat semakin sempitnya lahan di rumah kita masing-masing. Sistem hidroponik juga bisa kita maksimalkan di lahan-lahan sempit. Kemudian bagaimana dengan pendidikan anak-anak? Riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley, penulis Millionaire Mind (www.thomasjstanley.com) dan banyak mendapatkan penghargaan atas karya-karya emasnya, beliau menyamaikan bahwa kesuksesan seseorang dominan dipengaruhi oleh soft skill, antara lain:

  1. Kejujuran. Kejujuran adalah bakal dari sebuah kepercayaan dan tidak bisa dibeli dengan apapun. Sehingga semakin tinggi kejujuran seseorang maka tingkat kepercayaan orang lain semakin tinggi kepadanya.

    2. Disiplin merupakan sebuah contoh sikap yang mestinya menjadi perhatian kita sebagai orang tua. Para guru di Australia lebih khawatir jika peserta didiknya tidak mengantri ketimbang tidak pandai matematika. Mari kita lihat kepada diri kita apa yang pertama kali kita perkenalkan kepada anak.

    3. Mudah bergaul. Cara berinteraksi anak dengan orang-orang disekitarnya menjadi factor kesuksesannya kelak. Karena ini menjadi bekal networking serta memperkaya ide-ide cerdasnya

    4. Dukungan pendamping, tentunya ini berasal dari orang-orang terdekatnya, orangtua, saudara dan teman-temannya.

    5. Kerja keras. Tidak menjadi jaminan seorang pekerja keras mendatangkan kesuksesan, namun hasilnya akan berbeda antara keduanya

    6. Kecintaan pada yang dikerjakan, ini akan melahirkan loyalitas terhadap pekerjaan yang ia tekuni.

    7. Kepemimpinan. Setiap kita adalah pemimpin, paling tidak memimpin dirinya sendiri dalam melakukan sesuatu. Kepemimpinan yang baik tentu akan melahirkan pemikiran dan perilaku yang akan menjadi habit dalam dirinya

    8. Kepribadian komprehensif. Jiwa yang competitif pantang menyerah akan menjadi pemicu anak untuk mencapai hal-hal terbaik dalam hidupnya

    9. Hidup teratur ini lebih kepada terorganisir, sehingga apa yang yang akan dilakukan diraih dengan bertahap

    10. Kemampuan menjual ide. Memiliki ide saya tidak cukup, karena pemenangnya adalah siapa yang paling cepat mengeksekusinya, dan hal ini juga diperlukan inovasi atau pembaharuan. Tujuannya adalah untuk mengimbangi perubahan-perubahan yang terjadi,sehingga tidak ketinggalan zaman.

    Nah sepuluh faktor ini kini menjadi peluang emas kita sebagai orang tua dalam mendidik generasi emas kita. Mari jadikan kondisi sekarang membuat kita lebih bersyukur, karena dibalik sebenarnya kesulitan dan kemudahan itu adalah satu paket yang tak terpisahkan, tergantung cara kita menyikapinya.

 

 

Artikel ini pernah diterbitkan di https://republika.co.id/berita/qbg80p423/pembatasan-kegiatan-vs-produktif

GENERASI EMAS TERANCAM HILANG

GENERASI EMAS TERANCAM HILANG

GENERASI EMAS TERANCAM HILANG

Oleh: Cecep Lubis Hidayatulloh, S.KM,

Sekjen Forum Desa Berdaya, Co-Founder Gerakan Desa Berdaya

 

“Dunia saat ini bersatu dalam perjuangan bersama melawan musuh yang tak terlihat. Tetapi sementara perhatian kita fokus pada bagaimana menghindari atau mengobati COVID-19, konsekuensi serius yang akan menantang kita jauh melampaui pandemi saat ini – yaitu dampak-dampak tersembunyi – belum menjadi pemikiran. Ini harus berubah.”

(Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore)

 

 

PANDEMI covid-19 mengakibatkan krisis multidimensi di seluruh negara di dunia. Tidak hanya menyerang dan menjadi masalah kesehatan saja, tetapi juga berdampak pada masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dan stabilitas pangan nasional.

Pandemi juga memberikan dampak serius bagi pola asuh dan tumbuh kembang anak-anak di Indonesia. Minimnya akses pendidikan anak usia dini (PAUD), mandegnya aktivitas layanan posyandu, kekerasan mental, gangguan psikologis dan ancaman malnutrisi membuat Indonesia terancam mengalami lost generation.

Dalam upaya menekan penyebaran dan mengendalikan penularan covid-19, pemerintah pusat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada Selasa (31/3), telah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk wilayah-wilayah yang menjadi episentrum penularan covid-19. 

Pembatasan kegiatan tersebut meliputi pembatasan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan sosial budaya, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, dan pembatasan moda transportasi. Pembatasan tersebut sangat berdampak pada masyarakat termasuk anak-anak yang tidak bebas lagi berinteraksi sosial dan bermain. 

Anak-anak bisa merasakan stres akibat pandemi covid-19. Dr Tali Raviv, Associate Director Center for Childhood Resilience di Ann & Robert H. Lurie Children’s Hospital di Chicago, AS telah mengatakan bahwa wabah ini bisa memengaruhi kesehatan psikologis anak-anak. Masa anak-anak yang penuh kebebasan akhirnya tertekan, sehingga dapat mengancam kondisi psikologis anak, seperti traumanya anak-anak puluhan tahun ke depan dengan keadaaan yang di alami sekarang. Pandemi covid-19 juga memaksa anak harus banyak tinggal di rumah, sehingga dapat memunculkan ancaman baru akan peningkatan angka kekerasan dalam rumah tangga kepada anak karena tingkat stres yang tinggi dari orangtua atau anggota keluarga lainnya.  

Tidak optimal

Selama pandemi covid-19 proses kegiatan belajar mengajar secara tatap muka disekolahpun dihentikan untuk dilaksanakan pembelajaran jarak jauh di rumah dengan media yang paling efektif. Proses pembelajaran jarak jauh ini memberi banyak pelajaran bagi dunia pendidikan di Indonesia, tak terkecuali pendidikan anak usia dini (PAUD), di mana sistem pembelajarannya juga dituntut untuk bermigrasi ke pembelajaran daring (dalam jaringan/online). 

Meskipun pembelajaran daring untuk PAUD tidak berjalan optimal dikarenakan dari 98,4% siswa di satuan PAUD, hanya 13% yang mengikuti pembelajaran daring. Sisanya memakai metode penugasan melalui orangtua dan kunjungan langsung ke rumah siswa masing-masing. 

Hal itu dikemukakan Direktur PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Muhammad Hasbi dalam ajang bertajuk Wajah Baru PAUD di Indonesia Pasca Pandemi Covid-19: Sinergi Sekolah dan Keluarga yang digelar Program Studi Pendidikan Guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Universitas Prof Dr Hamka (Uhamka) Jakarta, Sabtu (16/5).

Tantangan utama pembelajaran daring selama pandemi covid-19 adalah ketersediaan jaringan internet, kemampuan teknologi informasi dan komunikasi orangtua yang memang tidak dipersiapkan untuk menjadi pendidik di rumah. Selain kurangnya kemampuan dan keterampilan guru. Sementara metode pembelajaran jarak jauh berbasis internet mengalami banyak tantangan karena perbedaan karakteristik daerah, tidak meratanya akses internet, hingga perbedaan kapasitas pengajar dan peserta didik di masing-masing wilayah.

 

Artikel ini pernah diterbitkan di https://mediaindonesia.com/read/detail/316487-generasi-emas-terancam-hilang

PERTANIAN TERPADU YANG PADAT KARYA BERSIAP MENGHADAPI NEW NORMAL

PERTANIAN TERPADU YANG PADAT KARYA BERSIAP MENGHADAPI NEW NORMAL

AKTIVASI POSYANDU TINGKATKAN KESEHATAN BALITA

Oleh: Abdullah
Centre of Excellen Tani Berdaya Rumah Zakat
 
Sudah tiga bulan lebih sejak pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo (2/3/2020) virus corona yang berasal dari Famili Coronavide menjadi akrab di telinga masyarakat Indonesia, hampir setiap hari kita disajikan dengan berita-berita terkait pandemi ini. Kehidupan masyarakat kita dibuat berubah, ruang gerak dalam beraktivitas di luar menjadi terbatas, namun dengan cara tersebut kita saling menguatkan, perlahan diharapkan akan memutus rantai penyebarannya. Pemberitaan akan virus corona ini juga diselingi oleh pemberitaan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan, bahkan Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, setidaknya ada 3,05 juta orang pekerja di Indonesia yang terdampak virus corona atau covid-19 ini (PHK dan dirumahkan). Melihat kondisi yang terjadi saat ini, menuntut rasa kemanusian kita semua, untuk kembali menghidupkan semangat gotong royong yang begitu melekat pada masyarakat kita, dimana budaya ini sudah menjadi jati diri bangsa Indonesia sejak lama.
 
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan bukan saja dialami oleh mereka yang tinggal di perkotaan, tapi juga oleh mereka yang tinggal di pedesaan. Lantas bagaimana masyarakat desa menghadapi tersebut? Apa yang digaungkan oleh pemerintah terkait program padat karya, seharusnya juga dapat diimplementasikan oleh siapa saja, termasuk dalam sektor pertanian rakyat. Mengutip definisi Padat karya dari Wikipedia yaitu kegiatan pembangunan proyek yang lebih banyak menggunakan tenaga manusia, dibandingkan dengan tenaga mesin. Rasanya hal ini masih sangat relevan diterapkan di sektor pertanian kita, mengingat penggunaan teknologi diluar irigasi masih sangat minim. Untuk itu ditengah keterbatasan tersebut penggunaan tenaga manusia dapat membantu aktivitas bertani kita dalam skala besar.
 
Mereka yang memiliki lahan dalam jumlah yang luas tentu dapat melakukan hal tersebut dalam mengelolah tanahnya, dengan melibatkan banyak buruh tani, terlebih sektor pangan menjadi primadona di tengah wabah covid-19 ini. Adapun untuk mengefisiensikan biaya operasinal, pemilik lahan dapat melakukan sistem pertanian terpadu, dimana menggunakan ternak sebagai mitra, kotoran yang dihasilkan oleh ternak yang dimiliki oleh petani atau buruh tani lainnya dapat digunakan sebagai pupuk. Inilah yang biasa kita sebut dengan integrasi ternak dan tanaman atau pertanian terpadu. Pemilik lahan pun akan terbantu dengan adanya bantuan pupuk kandang. Bagaimana aktivitas ini dapat diterapkan?
 
1. Mengedepankan semangat kekeluargaan, pengorbanan dan gotong royong
 
Artinya sang pemilik lahan dalam menggarap lahannya lebih memperhatikan penggunaan tenaga manusia, dengan niat menolong sesamanya, hal ini dapat disebut sebagai penerapan padat karya dalam lingkup masyarakat desa. Harapannya dapat mengurangi angka pengangguran yang ada di wilayah pedesaan. Jika hal ini dapat berjalan dengan baik, secara otomatis tingkat urbanisasi akan semakin rendah. Berbicara tentang semangat kekeluargaan, pengorbanan dan gotong royong yang ada di desa rasanya hal tersebut merupakan hal yang biasa bagi masyarakat pedesaan, dari desa kita mengenal istilah beras jimpitan, dimana mereka yang memiliki kelebihan beras memberikan beras kepada yang lain dengan cara menyimpan di jimpitan untuk diambil petugas.
 
2. Pertanian Terpadu
 
Setelah semangat gotong royong menjadi ruh dalam penerapan padat karya di pedesaan yang akan menjadi pertanyaan, bagaimana pemilik lahan atau modal yang ada di desa mendapatkan keuntungan? Pertanian Terpadu ini lah yang akan menjadi jawaban akan pertanyaan tersebut. Pada hakekatnya, pertanian terpadu adalah upaya memanfaatkan seluruh potensi energi agar dapat dipanen secara seimbang, baik itu dalam sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan.
 
Terkait hal ini, dapat kita ambil satu contoh pemilik lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman jagung, maka dengan pertanian terpadu dalam hal ini spesifik kepada integrasi ternak dan tanaman dapat diaplikasikan didalamnya. Misalnya saja, limbah peternakan seperti sisa kotoran ternak yang dimiliki oleh buruh tani yang bekerja pada pemilik lahan dapat dijadikan pupuk organik untuk tanaman jagungnya. Begitu juga sebaliknya limbah pertanian dari tanaman jagung nantinya akan dimanfaatkan menjadi pakan ternak. Dengan pola seperti ini, maka biaya produksi dari si pemilik lahan akan semakin rendah, karena ada pos pupuk yang dihemat dan harapannya keuantungan akan semakin besar.
 
Semoga melalui pendekatan pertanian terpadu yang padat karya di desa dapat menjadi salah satu solusi bagi masyarakat desa yang terdampak covid-19 dalam menghadapi new normal.
UNIT KANDANG BADAN USAHA MILIK MASYARAKAT (BUMMAS) JETIS BERDAYA KEMBALI DAPATKAN ORDERAN

UNIT KANDANG BADAN USAHA MILIK MASYARAKAT (BUMMAS) JETIS BERDAYA KEMBALI DAPATKAN ORDERAN

UNIT KANDANG BADAN USAHA MILIK MASYARAKAT (BUMMAS) JETIS BERDAYA KEMBALI DAPATKAN ORDERAN

Madiun. Unit Kandang Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMMas) Jetis Berdaya Desber Jetis, madiun kembali dapatkan orderan. Pengelola BUMMas tak menyangka penjualan kali ini lebih besar dari penjualan sebelum-sebelumnya.

“Kali ini domba terjual 11 ekor,” Husain Fata manajer BUMMas menyampaikan.

Promosi terus dilakukan oleh BUMMas untuk mampu membuka kembali pasar yang kemarin sempat lesu. Apalagi sekarang mendekati momen Idul Adha. BUMMas mengusahakan domba masyarakat, baik di kandang utama maupun di kandang mitra pemberdayaan yang notabene adalah para peternak binaan Rumah Zakat dapat terjual semua.

Eka Restia, Fasilitator Rumah Zakat yang mendampingi terus memaksimalkan pemasaran. Baik secara retail, kemitraan atau kelembagaan. “Seperti hari ini, penjualan dilakukan berbasis kemitraan. Jadi, domba yang terbeli hari ini akan dijual kembali oleh mitra kepada konsumen akhir,” papar Eka.

Upaya-upaya ini akan terus dilakukan dan dimaksimalkan sampai satu setengah bulan ke depan yang harapannya hasil penjualan ini dapat mengangkat kembali ekonomi masyarakat yang sempat terhenti kemarin.

GURU YANG TERGANTI

GURU YANG TERGANTI

GURU YANG TERGANTI

Oleh: Nurmansyah, S.Hum, Center of Excellent Manager Rumah Zakat Action

 

Sejak merebaknya pandemi corona, begitu banyak perubahan-perubahan yang terjadi di segala sisi kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan. Sejak dahulunya pola sekolah selalu duduk di bangku sekolah sambil mencermati guru dalam menjelaskan pelajaran demi pelajaran.

Pola jam belajar mulai dari pukul 08.00, ada juga yang dimulai dari pukul 07.30 hingga pukul 13.00. Ada juga yang dimulai dari pukul 13.00 hingga pukul 17.00, begitu seterusnya selama bertahun-tahun. Dengan adanya pandemi ini, pola yang sudah terbentuk terpaksa berubah mengikuti protokol atau kepatuhan yang dibuat oleh pemerintah.

Tentunya hal ini bertujuan untuk menghambat atau mencegah tersebar luasnya virus corona. Alhasil, peserta didik diarahkan oleh gurunya untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, dibimbing oleh orang tuanya di rumah, bahkan tidak jarang orang tua menjadi dominan dalam penyelesaian tugas yang diberikan oleh guru.

Banyak keluhan yang terjadi baik dari segi orang tua di rumah maupun dari guru untuk memonitoring tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didiknya, karena pola yang berubah begitu cepat. Tidak sampai disana keluhan lainnya mulai datang bermunculan, antara lain jaringan telekomunikasi yang susah, atau alatnya yang kurang mendukung.

Kemudian ditambah lagi dengan hilangnya fokus peserta didik dengan kondisi ini dalam kurun waktu yang cukup lama. Mereka mengalami kebosanan. Namun, tidak sedikit juga sekolah yang berinovasi dalam menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. Sehingga anak dan orangtua di rumah terbiasa dengan google. Cukup mengetikan keyword apa yang dibutuhkan, maka akan tampil ribuan bahan bacaan yang tersedia di hadapan mereka.

Orang tua yang dahulunya hanya akrab dengan marketplace dan social media lainnya, kini mulai terbuka dengan google yang tahu banyak hal. Anak-anak yang awalnya terbiasa dengan aneka games di gadget atau menjadi Youtuber (penikmat youtube, bukan content maker), kini wawasan mereka terbuka dengan adanya google.

Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Fasli Jalal, rektor Universitas Yarsi dalam International Webinar yang diselenggarakan oleh Minang USA tadi Ahad (21/6) pagi, bahwa pola pikir insan pendidikan telah berubah, belajar tatap muka ditiadakan dan membawa ke mindset baru, karena hari ini guru ataupun dosen bukan lagi sumber tunggal pembelajaran, melainkan sebagai fasilitator.

Bahkan saat ini tidak ada lagi kata-kata, mohon perhatikan ke depan dan sebagainya. Namun dibalik itu semua, peserta didik tentu lebih diminta tentang implementasi dari sebuah tanggung jawab dan haus akan wawasan demi upgrading diri mereka.

Untuk para orang tua di rumah tentunya ini menjadi sebuah kesempatan dalam mencetak generasi tangguh di masa depan. Karena orang tua adalah madrasah bagi anak-anaknya.

 

 

 

Artikel ini pernah diterbitkan di https://republika.co.id/berita/qccmd9423/guru-yang-terganti

MENGAMANKAN PANGAN SAAT PANDEMI, RUMAH ZAKAT MENGHIDUPKAN LUMBUNG PADI DI DESA KEDUNGUMPUL

MENGAMANKAN PANGAN SAAT PANDEMI, RUMAH ZAKAT MENGHIDUPKAN LUMBUNG PADI DI DESA KEDUNGUMPUL

MENGAMANKAN PANGAN SAAT PANDEMI, RUMAH ZAKAT MENGHIDUPKAN LUMBUNG PADI DI DESA KEDUNGUMPUL

TEMANGGUNG. Dampak ekonomi atas pandemi yang berlangsung begitu terasa di masyarakat. Kedepan, sektor pangan menjadi bagian yang harus diamankan. Karena pandemi ini belum dapat dipastikan kapan selesainya.

Di Desa Kedungumpul, Rumah Zakat bersama masyarakat menghidupkan kembali lumbung padi. Pada hari Minggu (21/06) nampak warga membawa gabah untuk disimpan di lumbung padi yang berada di Dusun Kedungwiyu, Desa Kedungumpul, Kec. Kandangan.

Anantiyo Widodo selaku fasilitator Rumah Zakat menyampaikan harapannya agar dengan adanya lumbung padi, pangan masyarakat bisa aman sekian bulan kedepan.

“Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menabung gabah karena sedang musim panen padi” ujar Anantiyo.

Masyarakat Dusun Kedungwiyu, Desa Kedungumpul terlihat antusias atas program ini. Disampaikan oleh Sayup, Ketua Lumbung Padi Dusun Kedungwiyu bahwa masyarakat melakukan kerja bakti hingga tengah malam untuk menyelesaikan ruang bagi penyimpanan gabah.

Sementara itu, Pemerintah Desa Kedungumpul menyambut baik kegiatan lumbung padi. Hendro Wacono, Kepala Desa Kedungumpul menyampaikan bahwa dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan yang muncul atas akibat dari pandemi Covid 19 ini.

“Pemerintah Desa Kedungumpul selalu mendukung setiap program yang memajukan masyarakat, salah satunya adalah program lumbung padi dari Rumah Zakat,” ujar Hendro.

NEW NORMAL SEBAGAI AWAL PERSIAPAN PANEN LELE DAN KANGKUNG

NEW NORMAL SEBAGAI AWAL PERSIAPAN PANEN LELE DAN KANGKUNG

NEW NORMAL SEBAGAI AWAL PERSIAPAN PANEN LELE DAN KANGKUNG

BREBES. Musim pandemi covid-19 sudah memasuki tahapan New normal, hal ini disambut dengan Riang dan gembira oleh anak-anak Binaan Lkp Logval.com.

Dalam kegiatan senang dirumah(20/6) beberapa anak binaan Rumah zakat yang mengikuti program pelatihan di Lkp Logval.com menceritakan pengalaman-pengalaman mereka selama kegiatan dirumah, yang di ceritakan di grup yang dibuat.

Kebanyakan dari mereka merasa sangat senang dan bahagia meskipun kegiatan dibatasi untuk tidak keluar rumah secara bebas saat mereka ingin bermain ataupun melakukan aktifitas lainnya.  Ada salah satu kegiatan yang setiap pagi siang dan sore  filakukan mereka untuk aktifitas dirumah,diantaranya adalah memelihara, mengecek,memberi makan dan sebagainya,  kegiatan inilah yang membuat mereka betah dirumah. Ini selalu mereka lakukan rutin  dasar dari edukasi dan suport yang disediakan oleh Arifin, Relawan Inspirasi.

Mereka menyampaikan, “Aku bahagia sekali, Pak!” karena ikan peliharaan mereka sudah besar-besar sebentar lagi siap digoreng, kangkungnya pun juga tumbuh bagus. Bahkan ada salah satu diantara mereka yang mengatakan bahwa kangkungnya sudah dipetik dan dimasak oleh ibunya, makanya saat mengirim gambar sudah tidak terlihat tanaman kangkung di embernya.

 

Hubungi Kami

Jl. Turangga No.33 Bandung
Call Center: 0804 100 1000
WA/SMS Center: 0815 7300 1555

Sumber: https://www.desaberdaya.id

 

Mitra Kami

Copyright © 2019 Desa Berdaya