Aep Muflih Saepulloh <br> (Ingin Menjadi Manusia yang Bermanfaat), Desa Mekarjaya

Aep Muflih Saepulloh
(Ingin Menjadi Manusia yang Bermanfaat), Desa Mekarjaya

Aep Muflih Saepulloh

Ingin Menjadi Manusia
yang Bermanfaat

Aep Muflih Saepulloh atau biasa disapa Kang
Aep oleh warga, mulai menjadi fasilitator tahun
2015. Ketika itu Ia menggantikan fasilitator lain
yang pindah. Meskipun melanjutkan program
yang sudah ada tapi tetap saja Aep harus
mengembangkannya menjadi lebih baik lagi.

Di tahun awal Aep mencoba memahami
kebutuhan para binaannya yang ternyata
mayoritas masih menganggap semua
program hanya bersifat charity saja tanpa

ada pemberdayaan. Barulah kemudian Aep
mulai memperkenalkan beberapa program
pemberdayaan baru yang sesuai dengan kondisi
masyarakat di Desa Mekarjaya.

Program pemberdayaan yang baru tersebut
adalah pra koperasi yang saat ini sudah menjadi
koperasi. Menurutnya menggarap program
pra koperasi tidak langsung membuat warga
berbondong-bondong jadi anggota.

“Perlu perjuangan yang cukup lama meyakinkan
warga bahwa program ini baik,” katanya. “Setelah
disampaikan tentang konsep pemberdayaan,
warga pun faham bahwa bantuan yang diterima
akan semakin luas kebermanfaatannya dan
mereka makin antusias mengikuti programprogram yang digulirkan. Kini melihat warga
merasakan manfaat dari hasil pemberdayaan ini
saya merasa senang sekali,” lanjut pria asal Ciamis
ini.

Keberhasilan program yang digulirkan oleh Aep
ini tidak terlepas dari dukungan keluarga dan
warga yang juga memiliki komitmen untuk
mengubah desanya. Aep terus berbenah
untuk menjadikan Desa Berdaya Mekarjaya
menjadi desa yang maju dan sejahtera.

“Bagi saya Fasilitator Desa Berdaya
itu bukan sebatas penyalur program,
tapi bagaimana secara pribadi bisa
memberikan kebermanfaatan bagi orang
lain. Saya yakin setiap kita menolong
orang lain, walaupun hanya menjadi
jembatan maka sejatinya Allah sedang
menolong kita,” kata Aep.

Heri Sumardi <br> (Bisa Berbuat Banyak untuk Masyarakat), Desa Berdaya Rejodadi – Sumatra Selatan

Heri Sumardi
(Bisa Berbuat Banyak untuk Masyarakat), Desa Berdaya Rejodadi – Sumatra Selatan

Heri Sumardi

Bisa Berbuat Banyak untuk Masyarakat

“Saya suka dengan dunia pemberdayaan, karena
bisa berbuat lebih banyak untuk membantu
masyarakat,” jawab Heri Sumardi ketika ditanya
alasannya menjadi Fasilitator Desa Berdaya
Rejodadi, Sumatera Selatan.

Sejak 2016 Heri berkomitmen mengabdikan
diri untuk masyarakat demi kemajuan desa
tempatnya tinggal. Dengan menjadi Fasilitator
Desa Berdaya membuat Heri lebih banyak belajar
mengenal lingkungan dan masyarakat baik secara
tradisinya maupun tingkah laku masing-masing.

Hal pertama yang ia lakukan sebelum
menggulirkan sebuat program adalan assesment
kebutuhan masyarakat Rejodadi. Saat assesment
itu lah Heri bisa berbincang lebih personal
dengan warga. “Ternyata ada banyak hal yang
bisa dilakukan setelah mendengar curhatan
warga. Dan hal yang paling membahagiakan
adalah saat melihat warga bisa tersenyum ketika
mendapatkan program dari Rumah Zakat,”
katanya.

Heri juga menyampaikan bahwa saat ini desa jadi
lebih ramai setelah adanya Desa Berdaya. Dulu
tidak ada tempat untuk belajar dan menghafal Al
Qur’an, sekarang banyak anak-anak yang belajar
dan menghafal Al Qur’an. Pun demikian dengan
para lansia, mereka lebih berdaya dengan
kegiatan kesehatan yang digulirkan serta mau
ikut belajar mengaji di program pengajian rutin.

Kebahagiaan Heri tersebut bukan tanpa
pengorbanan. Bapak dua anak ini selain menjadi
fasilitator Desa Berdaya, juga berprofesi sebagai
Ketua Yayasan Generasi Muslim, serta Pengelola
Sekolah Islam Terpadu Raudhatun Naqiyah
(PAUD,TK,SD dan Rumah Tahfidz). Tak jarang
kesibukannya ini menyita banyak waktu bersama
keluarga.

“Kadang waktu keluarga berkurang karena
berbenturan dengan program di desa. Kegiatan
dalam satu pekan rata-rata sebanyak 4-5 kali
kegiatan. Salah satu cara mensiasatinya saya suka
ajak anak dan istri datang ke tempat kegiatan, jadi
mereka faham apa yang sednag saya kerjakan,”
ungkap Heri.

Semangat Heri pun membuahkan hasil manis.
Berjalan hampir tiga tahun, Desa Berdaya
yang ia fasilitatori masuk menjadi salah satu
Desa Berdaya Model. Yakni Desa Berdaya 
yang dijadikan percontohan
dalam penyaluran
program untuk Desa
Berdaya
lainnya yang ada di
Indonesia.

Sarlivanti <br> (Aktivis Pendidikan di Desa Guha Uleu)

Sarlivanti
(Aktivis Pendidikan di Desa Guha Uleu)

Sarlivanti

Aktivis Pendidikan di Desa Guha Uleu

Menjadi fasilitator Desa Berdaya Guha Uleu tentu
bukanlah hal yang mudah, namun hal tersebut
dijadikan sebagai tantangan bagi Sarlivanti
untuk memberdayakan warga melalui berbagai
program pemberdayaan dari Rumah Zakat.

“Ketika keberadaan saya bisa memberikan
manfaat untuk orang lain, rasanya saya
mempunyai kebahagiaan tersendiri. Setelah
berinteraksi langsung dengan masyarakat dan
melihat kondisinya, saya juga semakin bersyukur
dengan kehidupan dan pencapaian yang sudah
didapatkan saat ini,” ungkap Sarlivanti, ibu tiga
anak.

Selain menjadi fasilitator, Sarlivanti juga concern
di bidang pendidikan. Ia pernah mewakili Sekolah
Sukma Bangsa Lhokseumawe dalam Lomba
Kepala Sekolah Berprestasi dan mendapatkan
juara I tingkat nasional yang diadakan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Indonesia.

Jenjang karier pendidikan Sarlivanti dimulai saat tahun 2007 dengan menjadi Kepala Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Kariernya terus meningkat hingga menjadi Direktur Sekolah pada tahun 2015.

Mempunyai tiga peran sekaligus (pegiat pendidikan, fasilitator, mengurus keluarga) tentu bukan hal yang mudah, tidak ada kata libur bagi dirinya. Setiap Senin-Jumat, Sarlivanti menunaikan kewajibannya mengajar di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, sedangkan Sabtu dan Minggu ia gunakan waktunya untuk kegiatan pemberdayaan di Desa Berdaya Guha Uleu.

Sebagai fasilitator Sarlivanti berharap, dengan adanya berbagai program pemberdayaan Rumah Zakat bisa meningkatkan taraf kehidupan warga Desa Berdaya Guha Uleu, baik dari segi perekonomiannya, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

“Kami terus berusaha untuk mengubah mindset masyarakat agar tidak hanya ingin menerima sesuatu secara gratis saja, tapi lebih pro aktif dengan mengikuti program dari Rumah Zakat. Perlu waktu memang untuk meyakinkan warga bahwa keterampilan itu adalah modal hidup yang sangat penting untuk keberlanjutan hidupnya di masa depan,” jelas Sarlivanti. 

Eriek Mustaqim <br> (Saya Hanya Ingin Menjadi Lebih Bermanfaat di Desa ini), Desa Berdaya Suci

Eriek Mustaqim
(Saya Hanya Ingin Menjadi Lebih Bermanfaat di Desa ini), Desa Berdaya Suci

Eriek Mustaqim

Saya Hanya Ingin Menjadi Lebih Bermanfaat di Desa ini

Sarjana Teknik Pertanian Universitas Jember ini
menjadi Fasilitator Desa Berdaya Suci, Jember
sejak 2017 karena keinginannya untuk menjadi
lebih bermanfaat bagi warga di desanya. Semasa
kuliah Eriek memang sudah aktif di bidang
pemberdayaan, ia menjadi inisiator rumah belajar
bagi anak miskin kota di Jember serta penggerak
pemuda di desanya.

Selain itu bapak satu anak ini juga berprestasi
di bidang ekonomi bahkan hingga tiga tahun
berturut-turut. Tahun 2016 Eriek menjadi
semifinalis Shell Liveware Startup Competition,
2017 semifinalis INZI Creative Competition, dan
tahun lalu Eriek menjadi penerima hibah program
Pengusaha Pemula Berbasis Inovasi.

Karenanya menjadi Fasilitator Desa Berdaya
bukanlah hal baru bagi Eriek. Sebelum menjadi
fasilitator pun Eriek sudah menggulirkan Taman
Baca bagi anak-anak di sekitar rumahnya.
“Dengan menjadi Fasilitator Desa Berdaya, saya
berharap pemberdayaan yang selama ini saya
lakukan bisa lebih menyeluruh,” ungkap Eriek.
Meski demikian apa yang dilakukannya bukan
berarti tanpa tantangan. Pada awalnya
tidak semua warga yang ditemui dapat
menerima apa yang disampaikannya.
Menurut Eriek tantangan paling besar justru
saat menghadapi para orang tua. Mindset
mereka tentang bantuan masih sekedar
menerima kemudian jadi hak milik tanpa ada
pendampingan.
Salah satu cara yang dilakukan Eriek untuk
mengatasi hal tersebut adalah dengan
menginisiasi program Pemuda Berdaya

dan Rumah Belajar Mata Tunas. Kedua program tersebut dikhususkan untuk remaja dan anak-anak.

“Kalau orangtuanya belum bisa ya saya coba anak-anaknya untuk bergerak membangun desa. InsyaAllah kalau sudah ada bukti keberhasilannya orangtua akan mengikuti. Dan alhamdulillah sekarang semua program yang digulirkan bisa berjalan dengan baik, masyarakat dan aparat desapun turut mendukung,” tutur Eriek 

Sunarsih <br> (Aktif Bedayakan Warga), <br> Desa Gilingan Surakarta

Sunarsih
(Aktif Bedayakan Warga),
Desa Gilingan Surakarta

Sunarsih

Aktif Berdayakan Warga

Berawal dari keinginannya untuk memberdayakan warga di Desa Gilingan Surakarta, Sunarsih mendaftarkan diri untuk menjadi Fasilitator Desa Berdaya Rumah Zakat.

Sebelum Desa Berdaya Gilingan resmi dibentuk, Sunarsih mengumpulkan beberapa tokoh Desa Gilingan untuk membahas masalah dan potensi Desa Gilingan. Menurutnya, dengan kolaborasi dan kerjasama dengan berbagai pihak akan mempercepat tercapainya tujuan untuk memberdayakan warga.

“Di daerah saya masih banyak yang terjerat dengan rentenir. Apabila tidak dihentikan, maka akan semakin banyak warga yang terjerat riba. Setelah menjadi Fasilitator Desa Berdaya Rumah Zakat, saya memutuskan untuk mendirikan koperasi simpan pinjam bagi warga,” ungkap Sunarsih.

Selain Program Pemberdayaan Ekonomi, Sunarsih pun menginisiasi Program Lingkungan dengan membentuk KWT (Kelompok Wanita Tani) Mandiri Asri. Keaktifannya di bidang pemberdayaan dan lingkungan, menjadikan ibu tiga anak ini berhasil meraih Juara III mewakili RW 19 dalam Lomba PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) tingkat Desa Gilingan.

Perannya sebagai Fasilitator Desa Berdaya telah memberikan dampak positif bagi warga di sekitar Desa Gilingan. Meskipun sibuk di bidang pemberdayaan, namun Sunarsih tidak lupa terhadap perannya sebagai istri dan ibu untuk ketiga anaknya. Ia tetap melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga seperti perempuan pada umumnya.

Tidak hanya itu, Sunarsih juga merupakan salah satu pendiri KSPPS (Koperasi Simpan 

Pinjam dan Pembiayaan Syariah) Puteri Berseri
di Solo. Ia berharap, dengan adanya koperasi
tersebut bisa memajukan usaha warga tanpa
meminjam modal kepada rentenir.

“Saya aktif diberbagai kegiatan pemberdayaan
karena mempunyai misi ingin keberadaan saya
bisa memberikan banyak manfaat kepada orang
lain. Meskipun banyak kegiatan, yang terpenting
kita harus bisa mengatur waktunya dengan baik
dan membuat skala prioritas, sehingga bisa
menjalankan tugas sesuai dengan perannya
masing-masing,” jelas Sunarsih.

Eka Restia <br> (Aktualisasi Diri untuk Masyarakat), <br> Desa Berdaya Jetis

Eka Restia
(Aktualisasi Diri untuk Masyarakat),
Desa Berdaya Jetis

Eka Restia

Aktualisasi Diri untuk Masyarakat

“Meskipun sudah berumah tangga, saya ingin
mengaktualisasi diri untuk memberikan manfaat
bagi orang lain. Setelah berdiskusi dengan suami
dan mendapatkan izin, saya memutuskan untuk
menjadi fasilitator Desa Berdaya Rumah Zakat,”
ungkap Eka Restia.

Keaktifannya semasa kuliah menjadikan Eka ingin
terus memberikan kontribusi kepada masyarakat,
sekalipun dirinya kini sudah berubah peran
menjadi istri dan ibu untuk dua anak. Namun, hal
tersebut tidak menghalangi dirinya untuk terlibat
kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungannya.

Ibu dua anak tersebut mengaku dirinya adalah
tipe wanita yang aktif, sehingga harus memiliki
kegiatan lain selain mengurus anak-anaknya.
Mulai Agustus 2018, Eka telah resmi menjadi
Fasilitator Desa Berdaya Jetis, menurutnya
kegiatan tersebut sangat fleksibel sehingga bisa
mengatur perannya sebagai istri, ibu, sekaligus
fasilitator.

“Dulu setelah nikah saya sempat bekerja, tapi
tidak bertahan lama karena saya tidak bisa
mengawasi dan merawat anak-anak dengan baik.
Jadi saya putuskan untuk resign. Setelah itu, saya
mencoba untuk mendaftar menjadi fasilitator
Rumah Zakat, alhamdulillah lolos. Saya sangat
senang karena ada kegiatan baru di bidang
pemberdayaan yang sesuai dengan passion
saya dan yang terpenting saya juga bisa
merawat anak-anak,” kata Eka.

Selain ingin mengaktualisasikan dirinya di
masyarakat, Eka juga memiliki keprihatinan
terhadap kondisi perekonomian di Desa
Jetis, khususnya di bidang peternakan.
Menurutnya, para peternak kambing tidak
bisa mendapatkan nilai jual yang layak karena
adanya permainan harga di tengkulak. Maka

dari itu, bersama Rumah Zakat ia menginisiasi
peternak berdaya yang bertujuan untuk
mensejahterakan dan memberdayakan peternak
di lingkungan Desa Jetis untuk mendapatkan
harga jual yang tinggi.

Dengan adanya Program Peternak Berdaya, Eka
berharap bisa membantu para peternak agar
bisa mendapatkan penghasilan yang baik untuk
memenuhi semua kebutuhan keluarganya.

Elan Jaelani <br> (Inovasi Perpustakaan Bank Sampang Bawa Elan Bertemu Presiden), Desa Berdaya Pamoyanan – Bogor

Elan Jaelani
(Inovasi Perpustakaan Bank Sampang Bawa Elan Bertemu Presiden), Desa Berdaya Pamoyanan – Bogor

Elan Jaelani

Inovasi Perpustakaan Bank Sampah
Bawa Elan Bertemu Presiden

Inovasi yang telah dilakukan Elan bersama
Rumah Zakat melalui Program Perpustakaan
Bank Sampah mengantarkannya menuju Istana
Presiden pada tahun 2017. Elan Jaelani diundang
resmi oleh presiden tepat di Hari Pendidikan
Nasional bersama 37 pegiat literasi lainnya dari
berbagai daerah.

“Suatu kehormatan bagi saya bisa diundang
untuk bertemu langsung dengan Presiden di
Hari Pendidikan Nasional. Awalnya sempat tidak
percaya tapi setelah dikonfirmasi, undangan
tersebut benar ditujukan untuk saya,” ungkap Elan.

Elan diundang Presiden RI karena dianggap telah
membantu pemerintah dalam memajukan dunia
literasi berbasis lingkungan terhadap anak-anak
melalui kegiatan pembinaannya di Desa Berdaya
Pamoyanan, Bogor.

Selain menjadi Fasilitator Desa Berdaya Rumah
Zakat, kini Elan sering menjadi narasumber dan
trainer terkait dengan pengelolaan sampah
di Kota Bogor. Pada tahun 2016, Elan juga
mendapat predikat sebagai master 3R (Reuse,
Reduce, Recycle) Kota Bogor.

“Menurut data Wakil Walikota Bogor,
Kecamatan termiskin di Kota Bogor berada
di Bogor bagian Selatan. Dan tempat tinggal
yang saya tempati, yaitu Desa Pamoyanan
adalah kecamatan termiskin kedua di
Bogor Selatan. Mulai dari situlah saya ingin
melakukan sesuatu agar wilayah saya tidak
tertinggal jauh,” ungkap Elan.

Pria berusia 34 tahun ini mempunyai
prinsip khairunnas anfauhum linnas. Elan

ingin menjadikan dirinya sebagai makhluk sosial
yang keberadaannya bisa memberikan banyak
manfaat bagi umat.

“Semoga kedepannya Desa Berdaya Pamoyanan
bisa dijadikan sebagai tujuan wisata lingkungan
dan pelatihan pengelolaan sampah. Sampah
tersebut kita olah sehingga bisa meningkatkan
perekonomian masyarakat. Dengan banyaknya
wisatawan, insya Allah produk dari Desa
Pamoyanan ini akan lebih mudah dipasarkan,”
kata Elan.

Indra Suryanto (Memberdayakan Masyarakat Lewat Kreativitas)

Indra Suryanto (Memberdayakan Masyarakat Lewat Kreativitas)

Indra Suryanto

Memberdayakan Masyarakat
Lewat Kreativitas

Adalah Indra Suryanto yang sejak sebelas
tahun silam sudah berkecimpung di dunia
pemberdayaan. Kala itu Indra bersama teman-
temannya membuat taman bacaan untuk
anak-anak di wilayah tempatnya tinggal di
Brontokusuma, Karangkajen, Yogyakarta.

Secara geografis wilayah Brontokusuman
memang berada di tengah perkotaan. Meski
demikian kecamatan ini masuk ke dalam
daftar kecamatan termiskin di Kota Yogyakarta.
Hal inilah yang membuat Indra kemudian
memutuskan untuk memberikan manfaat lebih
luas bagi masyarakat tidak hanya terpatok pada
usia anak-anak.

“Saya berharap warga di sini terutama ibu rumah
tangga bisa memiliki kegiatan yang bermanfaat
bagi diri dan keluarganya. Guyub rukun dan
gotong royong antar warga itu yang paling ingin
saya wujudkan di wilayah perkotaan seperti
Brontokusuman ini ,” tutur Indra.

Awal tahun 2017, kiprahnya sebagai fasilitator
dimulai dengan mengikuti berbagai pelatihan
yang diselenggarakan oleh Rumah Zakat.
Melalui pelatihan tersebut Indra semakin
tertantang untuk mengembangkan
program pemberdayaan yang berbasis
potensi lokal wilayahnya.

“Di sini dulu banyak pengrajin batik,
tapi kalau saya angkat batik seperti biasanya
tidak ada pembeda dengan wilayah lain. Akhirnya
saya menemukan ide untuk membuat ecoprint.
Saya mengajak lima orang ibu-ibu untuk ikut
dalam pelatihan ecoprint,” ungkap bapak dua
anak tersebut.

Sebagai seorang fasilitator, Indra juga terus
berinovasi untuk membantu warga melalui
berbagai kegiatan positif. Setelah lima warga
dibina melalui ecoprint, Indra kemudian
membuat program NakNik yang berbasis
keterampilan.

“Ketika kita memudahkan urusan orang lain,
nanti Allah yang akan mudahkan urusan kita, itu
yang menjadi moto hidup saya yang coba saya
tularkan kepada ibu-ibu ini,” kata sarjana teknik
kimia ini

Hubungi Kami

Jl. Turangga No.33 Bandung
Call Center: 0804 100 1000
WA/SMS Center: 0815 7300 1555

Sumber: https://www.desaberdaya.id

 

Mitra Kami

Copyright © 2019 Desa Berdaya